Archive for the ‘Article’ category

Today: Hari Blogger Nasional

October 27, 2008

Hari ini, 27 Oktober 2008, ternyata adalah hari blogger nasional. Hehe, saya pun baru tahu nya ya pas pagi ini tanggal 27 Oktober 2008. Pas lagi sarapan, cari Apa Kabar Indonesia eh terus ada Enda Nasution. Dia diinvite dalam rangka hari jadi blogger ini. Dan di name tag nya di screen, it is said: Bapak Blogger Indonesia. Gubrak. Ini juga baru tahu soalnya. Sori ya fren2 blogger, maklum mah, agak kuper tentang satu ini.

Saya mengikuti diskusinya hingga selesai, dan apa yang dapat saya sampaikan di sini bahwa blog adalah salah satu media buat seseorang untuk dapat mengekspresikan dirinya, pendapatnya, uneg2nya, apa pun deh. Blog dapat menjadi sebuah diary, blog dapat menampung inspirasi-inspirasi, dan blog dapat menjadi media untuk berbagi pengetahuan.

Blog juga dapat digunakan sebagai media kritik, tentang apapun. Dan saya pikir tidak perlu khawatir berlebihan bilamana nanti muncul fitnah/pencemaran nama baik. Toh para blogger Indonesia sudah pada dewasa, sudah ngerti mana yang baik dan buruk. Iya gak? Intinya sih, mari tulisan apapun yang diposting, apapun yang dishare di blog, landasilah dengan semangat membangun negeri Indonesia ini supaya jadi lebih baik. Begitu kan? 😉

Tetap semangat fren, tetap kreatif dan kritis! Met hari blogger bwt kita semua!

Advertisements

Memberi lebih mulia daripada meminta (Renungan)

July 2, 2007

Rasulullah SAW, bersabda :
“Tidak ada mata pencaharian yang lebih baik daripada yang diperoleh dengan tangannnya sendiri, sehingga apa saja yang digunakan untuk dirinya sendiri, untuk anaknya dan untuk pelayannya, baginya merupakan sedekah..” (HR.Ibnu Majah dari Miqdam bin Ma’dikariba)

“Sungguh lebih baik bagi seseorang membawa seikat kayu bakar dipunggungnya (lalu menjualnya) daripada meminta-minta kepada orang lain yang mungkin akan memberinya atau menolaknya.” (HR.Malik, Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasai)

Anar r.a. meriwayatkan bahwa seorang Anshar pernah datang kehadapan Rasulullah SAW dan meminta sesuatu (mengemis),
Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apakah di rumahmu benar-benar tidak ada apapun?”
Ia menjawab, “Ya Rasulullah, di rumah hanya ada kantong kain terpal, satu bagian saya pakai, satu bagian lagi saya bentangkan untuk istirahat tidur dan sebuah gelas yang saya pakai untuk minum.”
Rasulullah SAW bersabda, “Bawalah kedua barang itu kepadaku.”

Orang Anshar itupun membawanya kehadapan Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW mengambil barang itu dan mengumumkannya, “Siapa yang akan membeli barang-barang ini dariku?”
Seseorang menjawab, “Aku akan membeli keduanya seharga satu dirham.”
Rasulullah SAW bertanya (menawarkan) beberapa kali, “Siapa yang mau membeli dengan harga yang lebih tinggi?”
Akhirnya seseorang berkata, “Aku akan membelinya seharga dua dirham.”
Kemudian Rasulullah SAW menjual barang-barang tersebut kepadanya dan memberikannya dua dirham itu kepada orang Anshar tadi serta bersabda, “Belilah makanan dengan satu dirham dan beri makanlah keluargamu. Satu dirham lainnya belikanlah kapak dan bawalah kapak itu kepadaku.”

Orang Anshar itu kemudian membeli kapak dan membawanya kapak itu kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian mengambil kapak itu dengan tangannya yang penuh berkah memasangkan pegangan (tangkai) pada kapak itu lalu menyerahkan kepada orang itu seraya bersabda, “Pergilah, potonglah kayu dan juallah. Jangan datang kepadaku sebelum lima belas hari.”

Orang itu melakukan apa yang diperintahkan dan datang lagi setelah lima belas hari dengan membawa uang sepuluh dirham. Dengan uang itu ia membeli pakaian dan makanan. Rasulullah SAW bersabda, “Ini lebih baik bagimu daripada engkau muncul pada hari Kiamat dengan tanda di wajahmu yang menunjukkan bahwa engkau adalah seorang pengemis.”

Hadits tersebut maksudnya adalah, seseorang jangan menjadi beban orang lain dengan jalan meminta-minta, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa yang diatur oleh syariat. Pekerjaan kasar janganlah dipandang rendah dan memalukan. Karena itulah dalam hadits ditekankan agar kita tidak memandang rendah terhadap suatu pekerjaan yang halal, sehingga dengan bekerja kita dapat memenuhi kebutuhan hidup kita dan kebutuhan hidup orang-orang yang berada dibawah tanggungan kita, juga kita dapat bersedekah.

Sumber : “Keutamaan Mencari Nafkah Menurut Cara Rasulullah” Penulis : Maulana Muhammad Zakariyya al Kandhalawi, halaman 23-24, Pustaka Ramadhan, Mei 2004

Tak Ada Lagi Air Mata

May 23, 2007

Dikutip dari buletin Wa-Islama:

Pagi itu, di bulan Januari 2007, aku dekati ibunya anak-anak yang nampak lunglai dihantam rutinitas harian. Air bening mengalir di sudut kedua matanya yang indah. Lirih nyaris tak bersuara ia berkata, “Aku tidak sanggup lagi.” Sigap kugendong yang terkecil dan kusuapi ia dengan bubur bayu, lahap dan penuh keriangan, kami merasakan sebagai hiburan tersendiri, sambil berharap kelak ia menjadi seperti para cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hasil didikan putri tercinta Fatimatuzzahra radhiyallahu ‘anha.

Terkenang aku kepada kisah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang satu ini. Sebagaimana yang diungkapkan dengan indahnya oleh ustadz Fauzil Adhim dalam bukunya Disebabkan oleh Cinta Kupercayakan Rumahku Padamu. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguknya, ia sedang membuat tepung dengan alat penggiling sambil menangis. Haru, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Kenapa menangis? Mudah-mudahan Allah tidak membuat matamu menangis lagi.” Fatimah pun menjawab, “Ayah, aku menangis hanya karena batu penggiling ini, dan lagi aku hanya menangisi kesibukanku yang silih berganti.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengambil tempat duduk di sisinya. Fatimah berkata, “Ayah, demi kemuliaanmu, mintakan kepada ‘Ali supaya membelikan seorang budak untuk membantu pekerjaan-pekerjaanku membuat tepung dan menyelesaikan pekerjaan rumah.”

Setelah mendengar perkataan putrinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat penggilingan. Beliau memungut segenggam biji-bijian gandum dimasukkan ke penggilingan. Dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim maka berputarlah alat penggiling itu atas ijin Allah. Beliau terus memasukkan biji-bijian itu, sementara alat penggiling terus berputar sendiri, sambil memuji Allah dengan bahasa yang tidak dipahami manusia. Ini terus berjalan sampai biji-bijian itu habis.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada alat penggiling itu, “berhentilah atas izin Allah.” Seketika alat penggiling itu berhenti. Beliau berkata sambil mengutip firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya, dan mereka selalu mengerjakan segala yang diperintahkan” (QS. At Tahrim: 6)

Merasa takut jika menjadi batu yang kelak masuk neraka, tiba-tiba batu itu bisa berbicara atas izin Allah. Ia berbicara dengan bahasa Arab yang fasih. Selanjutnya batu itu berkata, “Ya Rasulullah, demi Dzat Yang Mengutusmu dengan hak menjadi Nabi dan Rasul, seandainya engkau perintahkan aku untuk menggiling biji-bijian yang ada di seluruh jagat Timur dan Barat, pastilah akan kugiling semuanya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Hai batu, bergembiralah kamu. Sesungguhnya kamu termasuk batu yang kelak dipergunakan untuk membangun gedung Fatimah di surga.” Seketika itu batu penggiling bergembira dan berhenti.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada putrinya, Fatimah Az Zahra, “Kalau Allah berkehendak, hai Fatimah, pasti batu penggiling itu akan berputar sendiri untukmu. Tetapi Allah berkehendak mencatat kebaikan-kebaikan untuk dirimu dan menghapus keburukan-keburukanmu serta mengangkat derajatmu. “Hai Fatimah, setiap istri yang membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah mencatat baginya memperoleh kebajikan dari setiap butir biji yang tergiling, dan menghapus keburukannya serta meninggikan derajatnya. Hai Fatimah, setiap istri yang berkeringat di sisi alat penggilingnya karena membuat bahan makanan untuk suaminya, maka Allah memisahkan antara dirinya dan meraka sejauh tujuh hasta.

Hai Fatimah, setiap istri yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisirkan rambut mereka dan menyucikan baju mereka, maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang yang memberi makan seribu orang yang sedang kelaparan, dan seperti pahala orang yang memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

Hai Fatimah, setiap istri yang mencegah kebutuhan tetangganya, maka kelak Allah akan mencegahnya (tidak memberi kesempatan baginya) untuk minum air dari telaga Kautsar pada hari kiamat.

Hai Fatimah, tetapi yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhaimu, tentu aku tidak akan mendoakan dirimu.

Bukankah engkau mengerti, hai Fatimah, bahwa ridha suami itu menjadi bagian dari ridha Allah, dan kebencian suami merupakan bagian dari kenbecian Allah.

Hai Fatimah, manakala seorang istri mengandung, maka para malaikat memohon ampun untuknya, dan setiap hari dirinya dicatat memperoleh seribu kebajikan dan seribu keburukannya dihapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Apabila telah melahirkan, dirinya terbebas dari segala dosa seperti keadaannya setelah dilahirkan ibunya.

Hai Fatimah, setiap istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, maka dirinya terbebas dari dosa-dosanya seperti pada hari dirinya dilahirkan ibunya. Ia tidak keluar dari dunia (yakni mati) kecuali tanpa membawa dosa. Ia menjumpai kuburnya sebagai pertamanan surga. Allah memberinya pahala seperti seribu orang yang berhajji dan berumrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan untuknya hingga hari kiamat.

Setiap istri yang melayani suaminya sepanjang hari dan malam hari disertai hati yang baik, ikhlas dan niat yang benar, maka Allah mengampuni dosanya. Pada hari kiamat kelak dirinya diberi pakaian berwarna hijau, dan dicatatkan untuknya pada setiap rambut yang ada di tubuhnya dengan seribu kebajikan, dan Allah memberi pahala kepadanya sebanyak seratus pahala orang yang berhajji dan berumrah.

Hai Fatimah, setiap istri yang tersenyum manis di muka suaminya, maka Allah memperhatikannya dengan penuh rahmat.

Hai Fatimah, setiap istri yang menyediakan diri tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, maka ada sreuan yang ditujukan untuk dirinya dari langit, “Hai Wanita, menghadaplah dengan membawa amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang berlalu dan yang akan datang.”

Hai Fatimah, setiap istri yang meminyaki rambut suaminya demikian pula jenggotnya, memangka kumis dan memotong kuku-kukunya, maka kelak Allah memberi minum kepadanya dari rahiqim makhtum (tuak jernih yang tersegel) dan dari suangi yang ada di surga. Bahkan Allah kelak akan meringankan beban sakaratul maut. Kelak dirinya akan menjumpai kuburnya bagaikan taman surga. Allah mencatatnya terbebas dari neraka dan mudah melewati sirath (titian).”

Istriku, coba lihat juga cerita Bilal radhiyallahu ‘anhu Mu’adzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Saya melewati Fatimah yang sedang menggiling, sementara anaknya menangis.” Saya berkata kepadanya, “Jika engkau mau, biar aku yang memegang gilingan dan engkau memegang anak itu. Atau, aku yang memegang anak itu dan engkau memegang gilingan.” Fatimah menjawab, “Aku lebih dapat mengasihi anakku dibanding engkau.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengalirkan air mata tatkala melihat Fatimah radhiyallahu ‘anha menggiling dengan kedua tangannya sambil menyusui anaknya. “Anakku, engkau menyegerakan kepahitan dunia untuk kemanisan akhirat.” Fatimah berucap, “Ya Rasulullah, segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya, dan pernyataan syukur hanyalah untuk Allah atas karunia-Nya.”