Tak Ada Lagi Air Mata

Dikutip dari buletin Wa-Islama:

Pagi itu, di bulan Januari 2007, aku dekati ibunya anak-anak yang nampak lunglai dihantam rutinitas harian. Air bening mengalir di sudut kedua matanya yang indah. Lirih nyaris tak bersuara ia berkata, “Aku tidak sanggup lagi.” Sigap kugendong yang terkecil dan kusuapi ia dengan bubur bayu, lahap dan penuh keriangan, kami merasakan sebagai hiburan tersendiri, sambil berharap kelak ia menjadi seperti para cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hasil didikan putri tercinta Fatimatuzzahra radhiyallahu ‘anha.

Terkenang aku kepada kisah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang satu ini. Sebagaimana yang diungkapkan dengan indahnya oleh ustadz Fauzil Adhim dalam bukunya Disebabkan oleh Cinta Kupercayakan Rumahku Padamu. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguknya, ia sedang membuat tepung dengan alat penggiling sambil menangis. Haru, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Kenapa menangis? Mudah-mudahan Allah tidak membuat matamu menangis lagi.” Fatimah pun menjawab, “Ayah, aku menangis hanya karena batu penggiling ini, dan lagi aku hanya menangisi kesibukanku yang silih berganti.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengambil tempat duduk di sisinya. Fatimah berkata, “Ayah, demi kemuliaanmu, mintakan kepada ‘Ali supaya membelikan seorang budak untuk membantu pekerjaan-pekerjaanku membuat tepung dan menyelesaikan pekerjaan rumah.”

Setelah mendengar perkataan putrinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat penggilingan. Beliau memungut segenggam biji-bijian gandum dimasukkan ke penggilingan. Dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim maka berputarlah alat penggiling itu atas ijin Allah. Beliau terus memasukkan biji-bijian itu, sementara alat penggiling terus berputar sendiri, sambil memuji Allah dengan bahasa yang tidak dipahami manusia. Ini terus berjalan sampai biji-bijian itu habis.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada alat penggiling itu, “berhentilah atas izin Allah.” Seketika alat penggiling itu berhenti. Beliau berkata sambil mengutip firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya, dan mereka selalu mengerjakan segala yang diperintahkan” (QS. At Tahrim: 6)

Merasa takut jika menjadi batu yang kelak masuk neraka, tiba-tiba batu itu bisa berbicara atas izin Allah. Ia berbicara dengan bahasa Arab yang fasih. Selanjutnya batu itu berkata, “Ya Rasulullah, demi Dzat Yang Mengutusmu dengan hak menjadi Nabi dan Rasul, seandainya engkau perintahkan aku untuk menggiling biji-bijian yang ada di seluruh jagat Timur dan Barat, pastilah akan kugiling semuanya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Hai batu, bergembiralah kamu. Sesungguhnya kamu termasuk batu yang kelak dipergunakan untuk membangun gedung Fatimah di surga.” Seketika itu batu penggiling bergembira dan berhenti.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada putrinya, Fatimah Az Zahra, “Kalau Allah berkehendak, hai Fatimah, pasti batu penggiling itu akan berputar sendiri untukmu. Tetapi Allah berkehendak mencatat kebaikan-kebaikan untuk dirimu dan menghapus keburukan-keburukanmu serta mengangkat derajatmu. “Hai Fatimah, setiap istri yang membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah mencatat baginya memperoleh kebajikan dari setiap butir biji yang tergiling, dan menghapus keburukannya serta meninggikan derajatnya. Hai Fatimah, setiap istri yang berkeringat di sisi alat penggilingnya karena membuat bahan makanan untuk suaminya, maka Allah memisahkan antara dirinya dan meraka sejauh tujuh hasta.

Hai Fatimah, setiap istri yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisirkan rambut mereka dan menyucikan baju mereka, maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang yang memberi makan seribu orang yang sedang kelaparan, dan seperti pahala orang yang memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

Hai Fatimah, setiap istri yang mencegah kebutuhan tetangganya, maka kelak Allah akan mencegahnya (tidak memberi kesempatan baginya) untuk minum air dari telaga Kautsar pada hari kiamat.

Hai Fatimah, tetapi yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhaimu, tentu aku tidak akan mendoakan dirimu.

Bukankah engkau mengerti, hai Fatimah, bahwa ridha suami itu menjadi bagian dari ridha Allah, dan kebencian suami merupakan bagian dari kenbecian Allah.

Hai Fatimah, manakala seorang istri mengandung, maka para malaikat memohon ampun untuknya, dan setiap hari dirinya dicatat memperoleh seribu kebajikan dan seribu keburukannya dihapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Apabila telah melahirkan, dirinya terbebas dari segala dosa seperti keadaannya setelah dilahirkan ibunya.

Hai Fatimah, setiap istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, maka dirinya terbebas dari dosa-dosanya seperti pada hari dirinya dilahirkan ibunya. Ia tidak keluar dari dunia (yakni mati) kecuali tanpa membawa dosa. Ia menjumpai kuburnya sebagai pertamanan surga. Allah memberinya pahala seperti seribu orang yang berhajji dan berumrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan untuknya hingga hari kiamat.

Setiap istri yang melayani suaminya sepanjang hari dan malam hari disertai hati yang baik, ikhlas dan niat yang benar, maka Allah mengampuni dosanya. Pada hari kiamat kelak dirinya diberi pakaian berwarna hijau, dan dicatatkan untuknya pada setiap rambut yang ada di tubuhnya dengan seribu kebajikan, dan Allah memberi pahala kepadanya sebanyak seratus pahala orang yang berhajji dan berumrah.

Hai Fatimah, setiap istri yang tersenyum manis di muka suaminya, maka Allah memperhatikannya dengan penuh rahmat.

Hai Fatimah, setiap istri yang menyediakan diri tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, maka ada sreuan yang ditujukan untuk dirinya dari langit, “Hai Wanita, menghadaplah dengan membawa amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang berlalu dan yang akan datang.”

Hai Fatimah, setiap istri yang meminyaki rambut suaminya demikian pula jenggotnya, memangka kumis dan memotong kuku-kukunya, maka kelak Allah memberi minum kepadanya dari rahiqim makhtum (tuak jernih yang tersegel) dan dari suangi yang ada di surga. Bahkan Allah kelak akan meringankan beban sakaratul maut. Kelak dirinya akan menjumpai kuburnya bagaikan taman surga. Allah mencatatnya terbebas dari neraka dan mudah melewati sirath (titian).”

Istriku, coba lihat juga cerita Bilal radhiyallahu ‘anhu Mu’adzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Saya melewati Fatimah yang sedang menggiling, sementara anaknya menangis.” Saya berkata kepadanya, “Jika engkau mau, biar aku yang memegang gilingan dan engkau memegang anak itu. Atau, aku yang memegang anak itu dan engkau memegang gilingan.” Fatimah menjawab, “Aku lebih dapat mengasihi anakku dibanding engkau.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengalirkan air mata tatkala melihat Fatimah radhiyallahu ‘anha menggiling dengan kedua tangannya sambil menyusui anaknya. “Anakku, engkau menyegerakan kepahitan dunia untuk kemanisan akhirat.” Fatimah berucap, “Ya Rasulullah, segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya, dan pernyataan syukur hanyalah untuk Allah atas karunia-Nya.”

Explore posts in the same categories: Article, Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: