My Daughter!

Posted May 23, 2007 by awaludinz
Categories: General

Puji syukur ke hadirat Alloh SWT, telah lahir putri kami Aisya Nurul Izzah Zakaria pada hari Jumat 27 April 2007.

Padahal sudah agak lama, tapi baru bisa woro-woro sekarang. Hehe.

Last but not least, mohon doa dan restunya semoga Izzah menjadi muslimah yang baik, menjadi pribadi yang bisa menjaga kehormatan dirinya, orang tua, dan agamanya.

Tak Ada Lagi Air Mata

Posted May 23, 2007 by awaludinz
Categories: Article, Islam

Dikutip dari buletin Wa-Islama:

Pagi itu, di bulan Januari 2007, aku dekati ibunya anak-anak yang nampak lunglai dihantam rutinitas harian. Air bening mengalir di sudut kedua matanya yang indah. Lirih nyaris tak bersuara ia berkata, “Aku tidak sanggup lagi.” Sigap kugendong yang terkecil dan kusuapi ia dengan bubur bayu, lahap dan penuh keriangan, kami merasakan sebagai hiburan tersendiri, sambil berharap kelak ia menjadi seperti para cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hasil didikan putri tercinta Fatimatuzzahra radhiyallahu ‘anha.

Terkenang aku kepada kisah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang satu ini. Sebagaimana yang diungkapkan dengan indahnya oleh ustadz Fauzil Adhim dalam bukunya Disebabkan oleh Cinta Kupercayakan Rumahku Padamu. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguknya, ia sedang membuat tepung dengan alat penggiling sambil menangis. Haru, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Kenapa menangis? Mudah-mudahan Allah tidak membuat matamu menangis lagi.” Fatimah pun menjawab, “Ayah, aku menangis hanya karena batu penggiling ini, dan lagi aku hanya menangisi kesibukanku yang silih berganti.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengambil tempat duduk di sisinya. Fatimah berkata, “Ayah, demi kemuliaanmu, mintakan kepada ‘Ali supaya membelikan seorang budak untuk membantu pekerjaan-pekerjaanku membuat tepung dan menyelesaikan pekerjaan rumah.”

Setelah mendengar perkataan putrinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju tempat penggilingan. Beliau memungut segenggam biji-bijian gandum dimasukkan ke penggilingan. Dengan membaca bismillahirrahmaanirrahiim maka berputarlah alat penggiling itu atas ijin Allah. Beliau terus memasukkan biji-bijian itu, sementara alat penggiling terus berputar sendiri, sambil memuji Allah dengan bahasa yang tidak dipahami manusia. Ini terus berjalan sampai biji-bijian itu habis.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada alat penggiling itu, “berhentilah atas izin Allah.” Seketika alat penggiling itu berhenti. Beliau berkata sambil mengutip firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya, dan mereka selalu mengerjakan segala yang diperintahkan” (QS. At Tahrim: 6)

Merasa takut jika menjadi batu yang kelak masuk neraka, tiba-tiba batu itu bisa berbicara atas izin Allah. Ia berbicara dengan bahasa Arab yang fasih. Selanjutnya batu itu berkata, “Ya Rasulullah, demi Dzat Yang Mengutusmu dengan hak menjadi Nabi dan Rasul, seandainya engkau perintahkan aku untuk menggiling biji-bijian yang ada di seluruh jagat Timur dan Barat, pastilah akan kugiling semuanya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Hai batu, bergembiralah kamu. Sesungguhnya kamu termasuk batu yang kelak dipergunakan untuk membangun gedung Fatimah di surga.” Seketika itu batu penggiling bergembira dan berhenti.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada putrinya, Fatimah Az Zahra, “Kalau Allah berkehendak, hai Fatimah, pasti batu penggiling itu akan berputar sendiri untukmu. Tetapi Allah berkehendak mencatat kebaikan-kebaikan untuk dirimu dan menghapus keburukan-keburukanmu serta mengangkat derajatmu. “Hai Fatimah, setiap istri yang membuatkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah mencatat baginya memperoleh kebajikan dari setiap butir biji yang tergiling, dan menghapus keburukannya serta meninggikan derajatnya. Hai Fatimah, setiap istri yang berkeringat di sisi alat penggilingnya karena membuat bahan makanan untuk suaminya, maka Allah memisahkan antara dirinya dan meraka sejauh tujuh hasta.

Hai Fatimah, setiap istri yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisirkan rambut mereka dan menyucikan baju mereka, maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang yang memberi makan seribu orang yang sedang kelaparan, dan seperti pahala orang yang memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

Hai Fatimah, setiap istri yang mencegah kebutuhan tetangganya, maka kelak Allah akan mencegahnya (tidak memberi kesempatan baginya) untuk minum air dari telaga Kautsar pada hari kiamat.

Hai Fatimah, tetapi yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhaimu, tentu aku tidak akan mendoakan dirimu.

Bukankah engkau mengerti, hai Fatimah, bahwa ridha suami itu menjadi bagian dari ridha Allah, dan kebencian suami merupakan bagian dari kenbecian Allah.

Hai Fatimah, manakala seorang istri mengandung, maka para malaikat memohon ampun untuknya, dan setiap hari dirinya dicatat memperoleh seribu kebajikan dan seribu keburukannya dihapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah mencatatkan untuknya memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Apabila telah melahirkan, dirinya terbebas dari segala dosa seperti keadaannya setelah dilahirkan ibunya.

Hai Fatimah, setiap istri yang melayani suaminya dengan niat yang benar, maka dirinya terbebas dari dosa-dosanya seperti pada hari dirinya dilahirkan ibunya. Ia tidak keluar dari dunia (yakni mati) kecuali tanpa membawa dosa. Ia menjumpai kuburnya sebagai pertamanan surga. Allah memberinya pahala seperti seribu orang yang berhajji dan berumrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan untuknya hingga hari kiamat.

Setiap istri yang melayani suaminya sepanjang hari dan malam hari disertai hati yang baik, ikhlas dan niat yang benar, maka Allah mengampuni dosanya. Pada hari kiamat kelak dirinya diberi pakaian berwarna hijau, dan dicatatkan untuknya pada setiap rambut yang ada di tubuhnya dengan seribu kebajikan, dan Allah memberi pahala kepadanya sebanyak seratus pahala orang yang berhajji dan berumrah.

Hai Fatimah, setiap istri yang tersenyum manis di muka suaminya, maka Allah memperhatikannya dengan penuh rahmat.

Hai Fatimah, setiap istri yang menyediakan diri tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, maka ada sreuan yang ditujukan untuk dirinya dari langit, “Hai Wanita, menghadaplah dengan membawa amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang berlalu dan yang akan datang.”

Hai Fatimah, setiap istri yang meminyaki rambut suaminya demikian pula jenggotnya, memangka kumis dan memotong kuku-kukunya, maka kelak Allah memberi minum kepadanya dari rahiqim makhtum (tuak jernih yang tersegel) dan dari suangi yang ada di surga. Bahkan Allah kelak akan meringankan beban sakaratul maut. Kelak dirinya akan menjumpai kuburnya bagaikan taman surga. Allah mencatatnya terbebas dari neraka dan mudah melewati sirath (titian).”

Istriku, coba lihat juga cerita Bilal radhiyallahu ‘anhu Mu’adzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Saya melewati Fatimah yang sedang menggiling, sementara anaknya menangis.” Saya berkata kepadanya, “Jika engkau mau, biar aku yang memegang gilingan dan engkau memegang anak itu. Atau, aku yang memegang anak itu dan engkau memegang gilingan.” Fatimah menjawab, “Aku lebih dapat mengasihi anakku dibanding engkau.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengalirkan air mata tatkala melihat Fatimah radhiyallahu ‘anha menggiling dengan kedua tangannya sambil menyusui anaknya. “Anakku, engkau menyegerakan kepahitan dunia untuk kemanisan akhirat.” Fatimah berucap, “Ya Rasulullah, segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya, dan pernyataan syukur hanyalah untuk Allah atas karunia-Nya.”

SMS Judi

Posted October 20, 2006 by awaludinz
Categories: General

Dulu, mas Udin sering nyeletuk kalau pas kebetulan nonton acara kuis 3T. Sama halnya saya ketika nonton kuis Iseng di pos ronda. Apalagi AFI, Indonesian Idol, dan berbagai model sms berhadiah lainnya (Pildakil, KDI, etc.. you name it!!).

Nyeletuknya adalah, semua itu tak beda dengan yang namanya judi. Judi yang legal, yang herannya kebanyakan orang malah sangat antusias untuk berpatisipasi. Arrgh..apa yang terjadi dengan bangsa ini?

Kenapa sms berhadiah ini judi? Karena mengandung unsur mengundi nasib dengan cara mudah, pemborosan, menghambur-hamburkan uang untuk permainan yang tak jelas, membahayakan pihak lain yang menderita kekalahan, membangkitkan fantasi, ketagihan dan mental malas. Tambah lagi, hadiah undian SMS di sini bersumber dari akumulasi hasil perolehan dari SMS.

Hasil keputusan MUI (Ijtima ulama di ponpes Gontor) tanggal 26 Mei 2006 juga telah memfatwakan haram untuk sms berhadiah ini.

Saya jelas tidak punya kuasa untuk menghentikan aktivitas sms berhadiah ini (I hope someday God will give me that power. Amin!). At least, saya sudah berusaha untuk melindungi keluarga saya untuk berpartisipasi dalam aktivitas ini. Saya harap Anda pun yang membaca tulisan ini akan melakukan hal yang sama.

Wassalam.

Riba (Lanjut)

Posted October 20, 2006 by awaludinz
Categories: General

Masih melanjutkan pembicaraan tentang riba: Bilamana ada sebuah pertanyaan “Tetapi bank juga mengolah uang para nasabah, maka mengapa saya tidak boleh mengambil keuntungannya?”

Benar bahwa bank memperdagangkan/menginvestasikan uang tersebut (ketokan driji nek ora), tetapi apakah sang nasabah ikut melakukan aktivitas dagang tersebut? Sudah tentu tidak. Apabila nasabah bersekutu atau berkongsi dengan pihak bank sejak semula, maka akadnya adalah akad berkongsi, dan sebagai konsekuensinya nasabah akan ikut menanggung apabila bank mengalami kerugian. Seorang teman yang lagi ‘promosi’ tentang sebuah bank syariah, ketika saya tanya hal tersebut, dia menjawab “oo.. InsyaAllah tidak akan rugi kok mas. Tetep dapet bagi hasil.” Hmm..

Tapi kenyataannya, pada saat bank mengalami kerugian atau bangkrut, maka kita, para nasabah, menuntut dan meminta uang kita untuk kembali, dan bank pun tidak mengingkarinya. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa LPS menjamin uang para nasabah yang tersimpan di bank. Sehingga apapun force maejure yang terjadi pada bank, uang nasabah tetap akan kembali.

Ini yang lalu membuat saya berpikir, gak ada bedanya antara bank konvensional dengan kebanyakan bank syariah. Syariah saya kira hanya label saja untuk meng attract penduduk muslim negeri ini yang notabene menjadi mayoritas. Tentang bagi hasil? Ah, itu hanya beda penyebutan saja.

Firman Allah dalam Al Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Al Baqarah 278-279)

Berdasar ayat di atas, saya menyarankan diri saya sendiri dan rekan-rekan yang ‘terpaksa’ harus memakai rekening di bank-bank ribawi, ambillah pokok hartanya saja, dan tinggalkan kelebihannya yang sudah jelas riba itu. Lebih baik lagi adalah, berikan semua kelebihan itu kepada kaum fakir dan miskin.

Riba

Posted October 19, 2006 by awaludinz
Categories: General

Istri saya, paling anti dengan yang namanya bekerja di bank. Ketika saya berandai-andai, bagaimana nanti kalau suamimu ternyata bekerja di sana suatu hari? Dia lalu mengatakan bahwa dia tidak akan mendoakan saya untuk lolos tes masuknya. Intinya, istri saya tidak ridho-dengan berbagai alasan yang cukup rasional.

Yusuf Qardhawi, dalam salah satu fatwanya di media.isnet.org, menjelaskan bahwa bunga bank adalah haram. Kenapa? Karena bunga tersebut adalah riba. Apa itu riba? Riba adalah semua tambahan yang disyaratkan atas pokok harta. Artinya, apa yang diambil seseorang tanpa melalui usaha perdagangan dan tanpa berpayah-payah sebagai tambahan atas pokok hartanya, itu adalah termasuk riba. Saya recommend tulisan ini untuk bacaan lebih lanjut tentang bunga bank ini. Silakan diakses di http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/BungaBank.html.

Harta dari riba ini, menurut Qardhawi, tidak ada manfaatnya untuk dizakati, karena zakat itu tidak dapat mensucikannya. Yang dapat mensucikan harta ialah mengeluarkan sebagian darinya untuk zakat.

So, bila sudah jelas haram, lalu apa yang harus dilakukan dengan harta riba tadi? Qardhawi menyarankan, ketimbang itu ngendon di bank tersebut dan menjadi milik bank sehingga dapat memperkuat posisi bank dalam bermuamalat secara riba, lebih baik semuanya (riba) di sedekahkan ke kaum fakir dan miskin.

Kemudian saya juga ingin mengutip sebuah hadist, masih terkait dengan riba (diambil dari http://www.alsofwah.or.id):

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam”Allah melaknat orang yang memakan (pemakai) riba, orang yang memberi riba, dua orang saksi dan pencatat (dalam transaksi riba), mereka sama saja”. (HR. Muslim dan Ahmad)

Voila. Bunga bank itu tentu saja diberikan oleh bank, sehingga bolehlah kita berikan label: pemberi riba. Siapa pencatat transaksi riba? Ya pegawainya dong. Dan sesuai dengan hadist shohih tersebut, mereka berada dalam laknat Allah.

Sehingga dengan demikian, bilamanakah hukum bekerja di bank? Dalam fatwa alsofwah.or.id tentang hal ini, bekerja di bank ribawi adalah tidak boleh hukumnya sebab bekerja di dalamnya masuk dalam kategori bertolong-menolong di dalam dosa dan melakukan pelanggaran. Allah sudah berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Sesungguhnya Allah amat pedih siksaan-Nya”. (Al-Ma’idah:2).

Ok. Lanjut ke bagian terakhir, adalah ancaman Allah dan Rasul-Nya tentang aktivitas ribawi ini. Dari Quran sendiri, coba cek di Al Baqarah ayat 276 dan 279. Untuk kali ini, saya tertarik untuk mencuplik 2 hadist Nabi:

Dosa riba memiliki 72 pintu, dan yang paling ringan adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (Shahih, Silsilah Shahihah no.1871)

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari hasil riba dan dia paham bahwa itu adalah hasil riba maka lebih besar dosanya daripada berzina 36 kali”. (HR. Ahmad, dengan sanad yang shahih)

Terus terang, saya mendapati hadist ini tidak lebih dari 3 atau 4 minggu yang lalu. Maklum lah, islam abangan. Tapi saya gak bisa membayangkan, ust. Yusuf Mansyur saja bilang bahwa tidak akan barokah hidup kita kalau kita melakukan zina dan tidak bertobat kepada Allah. Lha apalagi riba ini.

Semoga kita dijauhkan. Semoga kita dijauhkan. Semoga kita dijauhkan.

Wassalam.

RIP Steve

Posted September 8, 2006 by awaludinz
Categories: General

Di sharepoint kantor beberapa hari yang lalu, Bu Vivi (rekan kerja) memposting foto Steve Irwin dan memberinya judul ”selamat jln steve”. Saya pikir cuman iseng saja, tetapi ternyata salah satu orang yang saya kagumi itu benar-benar meninggal karena kecelakaan. Di youtube.com, tiba-tiba saja banyak sekali video dari aksi-aksinya yang mendominasi display untuk rating tertinggi. Publisitas ini sekaligus sebagai perhormatan khalayak atas dedikasinya yang mengagumkan untuk kehidupan satwa liar. Saya yakin memang banyak orang di dunia ini yang sangat kehilangan dia. RIP steve..

Anyway, kehidupan ini rasanya berjalan sangat cepat ya, dan berlalu begitu saja. Tidak ada yang menyangkalnya, atau bahkan menyadarinya. Bayangkan diri kita ketika menginjak kelas 4 SD. Rasanya itu baru kemarin saja dilalui, dan tahu-tahu sekarang sudah menjadi kepala keluarga (seperti saya). Kemarin rasa-rasanya baru merasakan belaian ibu, sekarang malah sudah mempunyai 2 orang putra. Anggota keluarga kita yang kemarin baru saja bercanda dengan kita dan tidak nampak sakit/lelah, tiba-tiba meninggalkan kita untuk selamanya.

Setelah kehidupan dunia berlalu, manusia akan memasuki kehidupan selanjutnya yaitu alam akhirat, dimana segalanya akan diperhitungkan dengan seadil-seadilnya oleh Sang Maha Adil. Makanya kita boleh terheran-heran dengan pola laku manusia sekarang-dengan kerusakan alam yang ditimbulkan dan makin hilangnya rasa malu dari diri.. Apa gerangan yang membuat mereka bertingkah sedemikian rupa seakan-akan mereka hidup selamanya dan tidak akan meninggalkan dunia ini?


Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. (3:30)

Puisi tentang Bu Guru

Posted July 19, 2006 by awaludinz
Categories: General

Seorang murid istri saya namanya Nurul, menuliskan puisi ini ketika di dalam kelas:


Di pagi hari yang seharusnya bersantai
Engkau masuk sekolah dan mengajar..

Di siang hari yang seharusnya untuk istirahat
Engkau masih ada di sekolah..

Ohh..betapa besar jasamu
Tak sebanding dengan gajimu

Tadi malam jam 23.00 ketika istri saya menyodorkan puisi ini, spontan saja rasa capek habis rewang di tempat Ibu (acara pembubaran panitia pernikahan mbak ipar) terasa tak berarti. Gile, puisi yang ditulis oleh bocah yang baru 2 hari menginjak di kelas 2 benar2 ‘menyentuh’.

Silakan define arti Anda sendiri tentang ‘menyentuh’ tadi itu. ;) Saya dan istri saya meluangkan beberapa saat untuk ngobrol ringan, kok bisa2nya yo Nurul menulis itu. Tidak lama sih ngbrolnya, karena kami harus bangun pagi2 seperti biasanya. Kami baru tidur jam 24.00 dan baru bangun jam 05.00. (telat setengah jam dari kesepakatan bersama)

Sekolahnya memang tergolong “unik” (alias muahal!). Murid2-nya pun gak mau kalah. Dita, seorang murid kelas 4 (baru saja naik kelas 5), tidak pernah percaya bahwa Bu Astri sudah menikah. Alih2 percaya dengan pembenaran dari guru2 baru (yang ada di TKP waktu itu), Dita malah balik menuduh semuanya telah bersepakat (konspirasi) untuk melakukan kebohongan demi membantu Bu Astri. Saya kaget lho pas diceritani itu! Konspirasi?! Ini pasti pengaruh dari tontonan sinetron2 remaja di TV. Kacau. Ha4x.

Saya terhibur dengan cerita-cerita unik dari murid2 istri saya ini. Haha. Hm.. somehow, mungkin dunia anak memang mengagumkan ya. :)

Proses Bisnis

Posted July 3, 2006 by awaludinz
Categories: General

Proses bisnis adalah sejumlah aktivitas yang didesain untuk menghasilkan sebuah output untuk sebuah user yang spesifik. Hal ini menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan itu diselesaikan..bagaimana sebuah hasil itu dicapai. Aktivitas-aktivitas ini terurut berdasarkan waktu dan tempat (biasanya), mempunyai awal dan akhir, dan komponen input dan output yang jelas.

Hm.., simple-nya, proses bisnis ini menurutku:

  1. Mempunyai tujuan
  2. Mempunyai input yang jelas
  3. Mempunyai output yang jelas
  4. Menggunakan resource (SDM)
  5. Menggunakan sejumlah aktivitas yang terurut

At least, itu yang terngiang-ngiang ketika berurusan dengan yang namanya proses bisnis, atau sebagian orang suka mengucapkannya terbalik: bisnis proses (- not business process, as it should be read). Tapi intinya sama saja. Hehe.

Hikmah Musibah Gempa (oleh: Aa Gym)

Posted June 2, 2006 by awaludinz
Categories: General

SAUDARAKU yang budiman, tentu banyak hikmah di balik gempa bumi yang telah terjadi. Adanya bencana tentu dapat pula merupakan teguran dari Allah SWT kepada hamba-Nya, sebagaimana firman Allah dalam (QS Al Hadiid [57]: 22), “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Akibat dari bencana ini, tentu sahabat-sahabat ada yang berduka kehilangan sanak-saudaranya maupun harta benda. Kepada yang keluarganya telah wafat terkena musibah, tentu kita bisa merasakan kepedihan itu. Tetapi di saat yang sama kita harus mampu mengobati jiwa kita. Bahwa kematian itu adalah milik Allah, Allahlah yang menciptakan makhluk, Allah juga yang satu-satunya mematikan makhluknya. Dan kematian tidak akan tertukar waktunya. Allah berfirman dalam (QS Ali -Imran [03] : 185), “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Setiap makhluk yang bernyawa, pasti merasakan maut. Jikalau datang saatnya ajal tidak bisa dimundurkan atau dimajukan barang sesaat. Jadi kalau kita dapati saudara kita wafat, kita harus yakin saatnya dia wafat. Hanya Allahlah yang kuasa menghidupkan dan mematikan makhluk.

Mengapa ini penting kita ketahui? Supaya kita tidak larut dalam kesedihan. Artinya, wafatnya saudara kita, kita harus ridhlo, pasrah, sambil mengubah diri kita, menjadi lebih taat pada Allah.

Bagi sahabat-sahabatku yang terluka ataupun mendapatkan cobaan sedang sakit, semoga kita bisa berbaik sangka pada Allah. Sebab lewat ujian sakit itu justru dapat mengugurkan dosa-dosa kita. Tetap berbaik sangkalah pada Allah, sambil menyempurnakan ikhtiar.

Untuk sahabat-sahabat yang lolos dari bencana, bersyukurlah dan jangan sampai takabur. Sehingga jangan sampai kita merasa selamat karena kehebatan kita. Jangan sampai merasa semua terjadi karena kekuatan dan kecerdasan kita, apalagi jika dikaitkan dengan berbagai macam klenik, justru itu yang akan menjauhkan kita dari pertolongan Allah, karena satu-satunya keselamatan, hanyalah milik Allah penggenggam diri kita.

Saudara-saudaraku yang rumahnya hancur, hartanya sirna, tentu kita masih ingat rumus tukang parkir. Sebab tukang parkir akan selalu siap jika yang dijaganya akan diambil oleh pemiliknya. Karena itu kita harus melatih diri kita, bahwa semua milik Allah, mudah bagi Allah untuk mengambilnya kembali. Semuanya hanya titipan Allah. Semakin yakin bahwa semua hanya milik Allah, semakin ringan hidup yang sedang kita jalani. Hal ini dapat diketahui dari firman Allah dalam (QS At-Taghaabun [64] : 11), “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Selain itu bagi yang terkena musibah alangkah baiknya bersikap sabar, karena dalam Alquran, Allah SWT berjanji akan membahagiakan orang-orang yang sabar dan tangguh dalam mengarungi kesulitan hidup ini. “Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS Al-Baqarah [2]: 155-156).

Bagi sahabat-sahabat yang tidak terkena musibah, tentunya dapat mengambil hikmah bahwa berbagai bencana itu bisa terjadi tiba-tiba, seperti bencana yang terjadi ini, yang semula dipikirkan adalah bahaya bencana Gunung Merapi, akan tetapi justru gempa bumi tektoniklah yang terjadi. Karena itu kita harus sangat siap dengan berbagai ujian hidup ataupun bencana yang dapat terjadi kapan saja dan di mana saja dengan cara berlindung diri pada Allah dengan jalan senantiasa berdzikir pada-Nya. Wallahu a’lam bish showab.

Bangkitlah Jogja!

Posted May 30, 2006 by awaludinz
Categories: General

Sabtu 27 Mei 06, Jogja mendapat ujian dari Alloh. Gempa 5,9 skala richter. Banyak korban meninggal, terluka, kehilangan anggota keluarganya, dan tempat tinggal.

Segala ujian dari Alloh, itu selalu disesuaikan dengan kemampuan hamba-Nya. Tidak mungkin Alloh memberikan ujian dan cobaan di luar batas kemampuan manusia. Tengoklah Tsunami di Aceh. Kenapa Aceh yang mendapat ujian ini? Jawabnya, karena masyarakat Aceh mampu menerima ujian ini. Dzikir tidak henti-hentinya terucap. Sholat pun tetap dilakukan meski di atas genteng/atap rumah. Layaknya sebuah kenaikan kelas, masyarakat Aceh sudah saatnya naik tingkat ke level yang lebih tinggi di hadapan-Nya. Apakah kita berduka dengan Tsunami Aceh? Tentu! Tapi kita juga harus angkat topi karena ketabahan mereka dalam “melakoni” skenario yang sudah ditetapkan oleh Alloh.

Bagaimana dengan Jogja? Sama juga. Musibah ini sudah terukur, karena tidak mungkin Alloh memberikan cobaan di luar kemampuan masyarakat Jogja. Sekarang adalah, saatnya untuk bangkit, dan membangun kembali Jogja seperti sedia kala. Lulus tidaknya kita dalam ujian dari Alloh kali ini, tergantung dari seberapa ikhlas kita menerimanya.